Monday, September 30, 2013

BENARKAH NABI MUSA DAN HARUN ADALAH SAUDARA KANDUNG MARIAM IBU BIOLOGIS ALMASIH ISA??




Dan Dari Mana Muhamad Mendapat Wahyu Sholat Lima Waktu?


Maria atau Mariam Ibu Biologis Almasih Isa dalam bahasa Arab disebut dengan Miriam, sehingga nama ini menjadi sama dengan nama Miriam yang adalah saudara kandung Harun dan Nabi Musa (silakan membaca kitab Bilangan 26:59).
Nampaknya disinilah AWAL MULA letak pangkal kebingungan MuhamadDalam, Surah Maryam ; 28, tercantum, “Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina!".

Kondisi ini lantas diperparah oleh Muhamad sendiri dengan menulis dalam Surah ali-Imran ; 35-36, demikian,  
(Ingatlah), ketika istri Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat(di Baitul makdis). Karena itu terimalah(nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui". Maka tatkala istri Imran melahirkan anaknya, dia pun berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu ; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada(pemeliharaan) Engkau daripada setan yang terkutuk".

Dalam Surah tersebut dengan begitu jelas dan terang bahwa Muhammad telah beranggapan bahwa Yokhebed, istri Amran/Imran(orang tua dari Miriam, Harun dan Nabi Musa), karena menganggap bahwa Mariam dan Miriam itu sama maka Muhamad mencatat bahwa Imran telah  mengamanatkan kepada Mariam yang ibu biologis Almasih Isa ketika Ia baru lahir.

Sudah berabad-abad hingga kini para sarjana muslim mencari dan terus mencari pembenaran akan ayat keliru ini hingga jungkir balik, namun tetap tak bisa menerangkan secara logis ketika kepada mereka diajukan kenyataan sejarah bahwa Miriam, Harun dan Musa sebagai anak-anak dari Imran yang hidup di abad 16 SM, sedangkan Mariam yang adalah Ibu Biologis Almasih Isa hidup di abad 1 Masehi. Melihat kenyataan ini mereka akhirnya bungkam dan hanya menyatakan bahwa, “...kami mempercayainya karena Quran mengatakannya begitu..!!”.

Kebingungan Muhamad dan Alquran akan fakta sejarah tersebut diatas jelas dan nyata tidak dapat disangkal lagi, betapapun para sarjana muslim hingga kini masih dan terus berusaha mati-matian sampai jungkir balik berusaha untuk membelanya dengan dalil-dalil yang mereka buat, namun apa yang mereka lakukan justru semakin bikin penyesatan ajaran islam menjadi kian bertambah dalam dimata pembaca Alkitab...... 

Pertanyaan logis yang perlu sebuah jawaban adalah ; mengapa Muhamad sampai berbuat senekat itu??  Apakah supaya dia dianggap agar lebih nampak keren?? Ternyata tidak juga, karena ternyata, jauh sebelum Muhamad hidup, di tanah Arab ada sebuah aliran sekte agama yang disebut agama Sabi  yang di dalam Alquran pengikutnya disebut para Sabiin(Mandaea). Dan di  dalam kitab kaum Sabiin inilah dicatat bahwa Almasih Isa merupakan anak dari Miriam saudara Harun anak Imran!! Dan, rupanya Muhamad telah dengan sengaja secara mentah-mentah mengadopsi isi kitab mereka serta mencatatkanya dalam Alquran sebagai ayat suci!!

Fakta yang tak terbantahkan ini tercatat dalam kitab kaum Sabiin(Mandaea) ini yang berjudul  “Haran Gawaita”  yang ditulis di abad 3 SM, dimana kita dapat membaca di buku tersebut bahwa ; “Almasih Isa ditempatkan di dalam rahim Mariam, putri Musa. Dia disembunyikan dalam kandungannya selama sembilan bulan. Ketika sembilan bulan telah berlalu, Mariam bersalin dan melahirkan sang Messiah”. [silahkan membaca Haran Gawaita ,Citta del Vaticano, Biblioteca Apostolica, hal. 3]. 

Rupanya, Muhammad sangat mengenal ajaran mereka bahkan kadang kala dia pun disebut sebagai kaum Sabi oleh masyarakatnya sendiri karena Muhamad mempraktekkan tatacara ibadah Sabi ; seperti sholat lima waktu, wudhu sebelum sholat seperti yang dilakukan orang-orang Sabi dan melakukan gerakan sholat yang sama seperti orang Sabi.  

Bahkan Muhammad sendiri awalnya disebut sebagai Sabiin oleh orang-orang Mekah. Buktinya , setelah dia kembali dari salah satu dakwahnya, dia merasa haus. Teman-teman-nya bertanya pada seorang wanita yang membawa kantung air untuk memberi air pada Muhammad. Wanita itu bertanya, “Di mana?”Mereka menjawab, “Pada nabi Alloh.” Wanita itu lalu menjawab, “Pada orang yang disebut orang Sabi itu?” Mereka menjawab, “Tepat, kepada orang yang kau sebut orang Sabi itu”. Wanita itu kembali ke Mekah dan berkata, “Dua pria yang bertemu denganku membawa aku menemui orang Sabi”. [silahkan baca Al-Bukhari, (Dar al-Kutub al-Ilmiyeh, Beirut-Libanon), 1:89].

Karena Muhammad dikenal masyarakat Mekah sebagai orang Sabiin dan mereka menyebut pengikut Muhammad sebagai Sabiin pula.  [bacalah Ibn al-Athir,al-Kamel Fi al-Tarikh, 2: hal. 86;Tarikh al-Tabari 1, hal. 126 ; Al-Asbahani, Al Aghani 17, hal.15-17].
Dengan demikian dapat dikatakan orang-orang  Arab di jaman Muhammad mengetahui dengan baik kaum Sabiin dan juga tata cara ibadah dan ajaran agamanya. Mereka tahu dekatnya hubunganMuhammad dengan sekte Sabi di Mekah, sehingga ketika Muhammad menyatakan agama barunya, masyarakat Mekah mengira agama itu muncul dari kaum Sabi yang hidup diantara mereka. Bahkan ketika Hasin, ayah dari seorang muslim bernama Umran, jadi muslim, suku Quraysh menyebutnya sebagai “Saba”. [silahkan membaca Halabiyah, (Dar al-Maarifah, Beirut-Lebanon), 1, hal. 456], yang berarti dia beralih agama dan memeluk agama Sabi.Ketika Hamzah, paman Muhammad, masuk mesjid untuk mendukung Muhammad, orang-orang Mekah berkata padanya, “Kami lihat kau sudah menjadi orang Sabi”. [bacalah Halabiyah 1, hal. 477], apalagi Abu Lahab, pamanMuhammad yang menentangnya, menyebut Hamzah sebagai “Orang Sabi yang bodoh”. [silahkan baca da temukan di Halabiyah 1, hal. 508]

Semua fakta sejarah ini menunjukkan bahwa suku Quraish ketika itu menggolongkan muslim sebagai umat sekte Sabiin.

Ternyata, suku-suku Arab lainnya juga menyebut demikian, dikisahkan, Labid pergi mengunjungi Muhammad dan dia menjadi Muslim. Dia kembali kesukunya yakni Bani Amir, dan melakukan wudhu.Wudhu merupakan tatacara ibadah umat Sabiin. Dia pun dicatat mengucapkan slogan-slogan kaum Sabiin seperti  “Allahu Akbar”.  Labid-pun kemudian bersujud seperti kaum Sabiin, sholat seperti cara Sabiin dan mengucapkan Fatihah seperti kaum Sabiin. Kemudian semua aturan sholat yang dikenal orang-orang Arab sebagai tata cara ibadah kaum Sabiin masuk ke dalam ajaran Islam hingga kini.

Seorang penyair dari suku Bani Amir, Sirafa bin Auf bin al-Ahwas, melihat Labid bersholat gaya kaum Sabiin dan mengejeknya melalui puisinya dengan mengatakan Labid sebagai “orang yang datang pada mereka dengan agama Sabi. [ silahkan anda membaca dan menemukan bukti ini di Ibn al-Athir,al-Kamel Fi al-Tarikh, 2, hal. 86].

Bila “Rumus Ilmu Pasti” Muhamad menyatakan bahwa ; Abad 16SM = Abad 1Masehi, maka jangan heran bila cara ini ditiru sarjana islam terkenal di Indonesia yakni Prof Fahmi Basya dengan Lembaga Studi Islam yang menyatakan bahwa ; Borobudur di Jawa yang dibangun Maharaja Syailendra pada abad 9 Masehi diklaim merupakan peninggalan Nabi Salomo/Sulaiman yang hidup beberapa abad Sebelum Masehi di tanah Israel....  

“Dengan demikian implikasinya sudah jelas bahwa penyesatan dalam ajaran islam sudah terjadi sejak awal agama ini dibawa Muhamad...”

Tentu saja anda dapat berkomentar apapun dengan sopan tanpa caci maki atau langsung akan dihapus, terimakasih.

Sunday, September 29, 2013

Gembala-gembala di Padang Efrata : Penampakan Messiah di Migdal Eder


Sebuah jawaban bagi muslim yang masih meragukan kisah, "kawanan gembala di tengah padang dipuncak musim dingin"

Dalam sebuah sesi diskusi dengan rekan-rekan saya yang sudah cenderung ingin meninggalkan agamanya yang lama, kini mereka semakin begitu antusias berdiskusi yang menjurus ke aqidah dan tauhid kristiani dengan cara pandang yang semakin kritis. Namun nampaknya, semakin mereka ingin murtad mereka bahkan malah semakin kritis dalam hal perkara tertentu yang memang sangat terbuka untuk dipertanyakan. Sayapun yakin bahwa, walaupun mereka sangat awam tentang Kristen, namun pertanyaan yang mereka ajukan tidak mudah untuk dijawab bahkan oleh rohaniwan yang sudah lama berkecimpung dalam urusan ini yang mungkin saja karena alasan keterbatasan akan padanan dan pengetahuan bahasa.

“...kitab anda ngaco, bagaimana mungkin ada kawanan gembala di Padang yang tengah menggembalakan ternaknya di tengah malam gelap di puncak musim dingin bersalju??”, inilah salah satu pertanyaan yang tidak mudah dijawab, bahkan oleh rohaniwan sekalipun. Pertanyaan yang tidak disangka-sangka ini “sungguh sangat masuk akal” dan “sangat logis”. Karena, secara logis memang tidak mungkin terjadi di tengah puncak musim dingin bersalju ada sekawanan gembala yang menjaga ternaknya di tengah padang... namun sebaliknya saya justru bangga mereka bisa menemukan pertanyaan yang saya anggap sangat “luar biasa” ini. Dan bahkan baru kali ini saya mendapatkan pertanyaan tersebut! Karena dengan demikian, mereka pasti sudah berusaha keras untuk mencoba memahami iman mereka yang baru, kristiani, disisi lain bila saya dapat menjawabnya, mereka selangkah lagi akan benar-benar murtad...

Sebuah artikel yang sudah lama saya simpan di laptop akhirnya saya berikan kepada mereka untuk mereka pelajari. Artikel tersebut saya copy dari BAMBANG NOORSENA CENTER  karangan Bambang Noorsena,SH,MA yang kebetulan juga seorang mantan muslim. Anda selanjutnya juga dapat membacanya disini agar bisa ikut memahaminya. Namun setelah menyelesaikan membacanya mungkin akan ada pertanyaan lanjutan ; jawaban ini terlalu dicari-cari dan kebetulan ditemukan di Alkitab!  Sama sekali tidak! Karena memang tidak ada jawaban yang dicari-cari, memang Alkitab dan Injil menulisnya, dan kini kembali kepada nurani anda untuk dapat menerima jawaban tersebut atau tidak, karena yang terpenting disini adalah bahwa berita keselamatan telah dikabarkan kepada anda sekalian dan menunggu keputusan anda selanjutnya....

Dan inilah artikel selengkapnya, selamat mengikuti ;


"Migdal Eder, Menara Kawanan
Domba, tempat dimana akan terjadi Raja
Messiah akan diwahyukan pada hari-hari
akhir" (Targum Yonathan, Berehit/Genesis 35:21)

"Tahun yang baik pada bulan Tebeth (Desember)
tidak turun hujan" (Talmud, Ta’anit 6b)

Mungkinkah ada kawanan domba di
padang pada musim dingin?
                                                                              
Dalam banyak rincian tulisannya, khususnya Kisah Para Rasul, keterangan Lukas dibuktikan sangat tepat oleh para archeolog akhir-akhir ini. Nah, dalam kaitan dengan tanggal perayaan Natal, 25 bulan Tebeth/Desember. Lukas menulis: Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal dipadang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (Lukas 2:8). Pertanyaan yang lazim dikemukakan, "Mungkinkah ada kawanan domba yang digembalakan di padang pada waktu malam di musim dingin?". Pertanyaan ini, tentu saja memustahilkan penanggalan Gereja seperti yang sudah kita bahas mengenai tanggal Kelahiran al-Masih Isa.

Pertanyaan itu memang menarik. Tetapi sayang sekali, semua sikap yang cenderung meremehkan kisah-kisah seperti itu dalam Alkitab, kurang dilengkapi dengan pemahaman yang memadai mengenai latar belakang tradisi Yahudi. Khususnya mengenai pengharapan Yahudi mengenai kedatangan Messiah. Pertanyaan di atas, dapat dijawab dengan mengemu-kakan 2(dua) fakta dasar sebagi berikut :

Pertama, sesuai dengan pengharapan Yahudi tampaknya yang dimaksudkan Lukas dengan padang gembala itu bukan padang gembala biasa. Tetapi menunjuk kepada Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" yang disebut dalam Targum Yonathan. Latar belakangnya, seperti dicatat dalam Kejadian 35:16-22. Di situ dikisahkan tentang kematian Rahel pada waktu ia melahirkan Benyamin, yang lalu dikuburkan di jalan ke Efrata, yaitu Bethlehem. Kubur Rahel itu ada di Bethlehem hingga sekarang. Di sebuah bangunan dengan kubah putih, di situ ada Menorah dan tulisan Ibrani:Qubr Rahel, "kuburan Rahel". Dalam Targum Yonathan, Migdal Eder, "Menara kawanan domba",[2] tempat Israel memasang kemahnya (Kejadian 35:21), disebut sebagai tempat Messiah akan dinyatakan. Menurut literatur Yahudi: Mishnah, Sheki-nah 7,4 domba-domba yang disebut dalam kaitan dengan Migdal Eder itu bukan domba-domba biasa, tetapi domba-domba kurban Bait Allah, yang dijaga oleh gembala-gembala khusus pula yang diikat oleh peraturan rabbi-rabbi Yahudi. Karena itu, letak Migdal Eder menurut keterangan Mishnah tadi di suatu jalan tertutup dalam perjalanan dari Bethlehem menuju ke Yerusalem. Yang jelas, apa yang sekarang disebut Sahl al-Ra’wat (The Sepherd’s Field) di Beyt Sahour, itu hanya kira-kira saja. Artinya, jauh dari keterangan yang diberikan Mishnah. Nah, karena tempat itu memang tempat tertutup, mungkin semacam benteng begitu, maka "domba-domba di padang itu dibiarkan digembalakan, baik pada saat musim panas maupun musim hujan". Demikian keterangan yang terbaca dalam Talmud, tractate: Bezah 40a, Tsepta Bezah 4:6. [3] Nah, untuk ukuran domba-domba biasa di padang belantara memang tidak mungkin, sebab domba-domba pada umumnya paling lambat harus kembali dimasukkan dalam kandangnya pada waktu turunnya hujan pertama (kira-kira bulan Nopember)". Bahwa Bait Allah di Yerusalem mempunyai persediaan khusus seperti itu, jelas dari fakta bahwa tidak ada upacara Yahudi yang tanpa kurban hampir dalam semua lingkaran tahun liturgis. Dalam penanggalan liturgi Yahudi, perayaan yang jatuh pada bulan 25 Kislew sampai 2 Tebeth (Desember/Januari) adalah Hari Hanuka ("penahbisan Bait Allah"). Hari raya ini memperingati kemenangan Yuhuda Makabe pada tahun 165-164 sebelum Masehi, karena kejahatan Anthiokus Epifanes yang menajiskan Baitul Maqdis itu (2 Makabe 10:6). Dalam Yohanes 10:22 disebutkan bahwa perayaan itu jatuh pada musim dingin. Ciri khas perayaan ini adalah penyalaan lampu-lampu terang, sehingga sejarahwan Flavius Yosephus menyebutnya : "Hari Raya Terang" (Antiquities 12:325).[4] Barangkali dari upacara inilah, ummat Kristen mengadaptasi penyalaan lilin-lilin dan lampu Natal. Jadi, tidak usah curiga dulu bahwa ritus-ritus Natal itu asalnya dari paganisme, meskipun kita tidak mengecilkan makna kontekstualisasi yang dalam pada agama apapun di dunia ini.

Kedua, secara umum biasanya pada musim dingin, maka gembala tidak menggembalakan domba-dombanya di padang. Ya, ini kan pada umumnya. Apa di dunia ini tidak pernah terjadi waktu-waktu yang khusus? Jawabnya: Ya, tentu saja pernah terjadi. Jadi, biasanya memang pada bulan Tebeth/Desember curah hujan sangat besar. Orang-orang akan menggigil kedinginan bila berada di luar. Tapi, ternyata tidak selamanya pada bulan Tebeth turun hujan. Nah, kalau saya berkata ada yang luar biasa, supra-Natural, pasti saya akan diejek tidak ilmiah. Tapi saya berbicara berdasarkan bukti. Dalam Talmud, Ta’anith 6b, saya membaca: "Tahun baik dalam bulan Tebeth (Desember) tidak turun hujan". [5] Apa maksud-nya? Ya, memang pernah terjadi "salah mangsa, salah musim". Dalam hubungan dengan itu, Talmud malah secara eksplisit mencatat bahwa pada musim dingin: "domba-domba digembalakan di padang". Untuk lebih mantabnya, saya kutip bahasa Ibraninya: alu hen midbariyot. The flocks which pastured in the wilderness. [6] Kini saya mau bertanya, "Apakah tidak masuk akal apabila kita berfikir bahwa pernah ada waktu yang disiapkan secara khusus oleh Allah: suasana ramah, hari baik dan cuaca yang bagus?". Kelahiran Messiah sendiri, Putra Allah yang lahir dari seorang perempuan Yahudi di Palestina itu terjadi: Fa lama tamma al-Zaman. "When the fullness of the times had come" (Galatia 4:4). Ya, mungkin penafsiran saya ini terlalu jauh. Tapi begitulah saya haqqul yaqin, mengimani misteri Ilahi. Kesimpulan saya, sekali lagi tidak ada yang janggal dengan kelahiran Sayidina Almasih pada bulan Tebeth/ Desember, sebagaimana yang ditetapkan dalam hitungan liturgi Gereja selama ini.

Catatan kaki:

1. Migdal Eder, "Menara Kawanan Domba" ini mempunai makna penting dalam pengharapan Mesianik Yahudi. Tempat itu letaknya antara Bethlehem menuju ke Yerusalem, dan itu bukan padang biasa seperti yang saya buktikan dalam tulisan ini.
2. Alfred Edhersheim, The Life and Times of Jesus The Messiah (Hendrickson Publisher, 1995), pp. 130.
3. Ibid, p. 131.
4. William Wiston, A.M. (ed.), The Works of Flavius Josephus (Philadelpia: J.B. Lippicott & Co, 1872), p. 421.
5. Alfred Edersheim, Loc. Cit.
6. Alfred Edersheim dalam bukunya juga mengutip hasil penelitian Dr. Chaplin, Palestinian Exploration, Januari 1883. Rata-rata pada pertengah-an bulan musim dingin di Palestina, curah hujan mencapai 4.718 inci pada bulan Desember, 5.479 inci pada bulan Januari, dan 5.207 inci pada bulan Pebruari. Jadi sangat dingin. Tetapi pernah terjadi pada tahun 1876-1877 kita mendapatkan angka-angka yang mengejutkan: 0.490 inci pada pertengahan Desember, 1.595 inci pada bulan Pebruari, dan 8.750 pada bulan Pebruari. Jadi, bukan mustahil keterangan Talmud: "Tahun yang baik dalam bulan Tebeth tanpa Hujan", terjadi pada saat kelahiran Yesus (Ibid).
 
Sumber: Noorsena, Bambang, Renungan-renungan Idul Milad (Natal) di Tanah Suci Israel/Palestina, [Malang: Studia Syriaca Orthodoxia,1999], pp. 37-41

[kini, setelah melalui proses yang berliku dan panjang, rekan-rekan saya tersebut bisa mengerti dan sudah meninggalkan agamanya yang lama...]
silahkan menuliskan komentar dengan dengan penuh tanggungjawab tanpa caci maki atau akan langsung dihapus...




Wednesday, September 25, 2013

MEMPERTANGGUNG-JAWABKAN IMAN KRISTIANI TENTANG KEESAAN ALLAH, GELAR PUTRA ALLAH DAN KESELAMATAN DALAM KRISTUS.


Pengertian ;

1. Aqidah Trinitas/Trinity = Tuhan terdiri dari tiga unsur.
2. Aqidah Tritheisme = Tuhan itu ada tiga.


Pengertian Trinitas/Trinity adalah aqidah hakiki dalam kristiani sejak abad pertama, 
sedangkan pengertian Tritheisme adalah anggapan atau cara pandang islam yang keliru terhadap aqidah kristiani semenjak abad ke enam hingga kini yang menganggap kristiani menyembah tiga Tuhan(Tritheisme), 
hal inilah yang terjadi, bahkan karena ingin mempertahankan aqidah yang telah terlanjur salah tersebut, maka hingga kini islam tidak pernah bisa menerima perbadingan "apple to apple", sehingga tidak pernah akan ketemu ujungnya... 
Islam kini tetap tidak mau membuka kaca mata kuda sehingga tetap menganggap bahwa Tritheisme sama saja dengan Trinitas/Trinity.


Bila Anda Dapat Menerima Bahwa PengertianTrinitas dan Tritheisme itu berbeda, maka silahkan melanjutkan membaca artikel ini, semoga tercerahkan.....



[sekali lagi, artikel ini dicopy dari BAMBANG NOORSENA CENTER karangan Bambang Noorsena,SH,MA seorang mantan muslim dengan judul sama. Semoga penjelasan dalam artikel ini dapat mencerahkan pembaca yang saat ini masih terbelenggu oleh aqidah islam yang keliru dalam memahami aqidah iman Kristiani, selamat membaca....].



1. Catatan Pengantar

Artikel-artikel saya di blog ini yang penuh catatan kaki sebagai pertanggung jawaban sumber yang saya kutip, sering dianggap “sulit dipahami” oleh beberapa pembaca. Karena itu, mungkin tulisan  sederhana ini dapat membantu.  Dalam artikel ini saya akan menulis dalam bentuk tanya jawab mengenai seputar kesalahfahaman Islam mengenai pokok-pokok Iman Kristiani, bukan hanya soal Trinitas dalam hubungannya dengan Keesaan Allah, Ketuhanan dan keilahian Yesus (the Lordship and Divine of Jesus), tetapi juga membahas bagaimana menjawab salah pengertian sekitar makna dosa asal dan penebusan dalam Kristus.

Sebenarnya masih ada kesalahfahaman lain yang sering muncul, yaitu mengenai historisitas peristiwa salib dan  keaslian Alkitab. Tetapi saya akan membatasi pada tema pokok yang akan saya uraikan dalam bentuk tanya jawab, mengingat tema dialog teologis Kristen-Islam selama ini kurnag banyak disinggung dalam wacana berteologi kita. Mungkin ada baiknya kita membahas mengenai “Otentisitas Alkitab dalam Dialog Teologis Kristen-Islam” dalam artikel tersendiri, mengingat bahwa tema yang saya sebut terakhir ini memang cukup kompleks.

Untuk tidak membebani peserta seminar dengan banyaknya catatan kaki, seperti tulisan-tulisan saya pada umumnya, maka bagi pembaca yang tertarik untuk melacak sumber-sumber kutipan saya, diersilakan untuk membaca buku-buku saya, khususnya Jangan Sebut Saudaramu Kafir! dan Togog Madeg Pandhita: Tauhid vs. Unitarianisme (“Rasan-rasan” Soal Tuhan di Jagad Punakawan), dan buku terbaru saya: The Dead Sea Scrolls: Mengguncang atau Mendukung Kekristenan? (Semua buku di atas bisa dipesan langsung, karena belum beredar di toko-toko buku). Catatan terakhir ini kiranya menjadi pertanggungjawab ilmiah dari pokok-pokok pikiran saya, sebagaimana yang akan saya uraikan di bawah ini: 

2. Soal Keesaan Allah dan Keilahian Yesus Kristus

PERTANYAAN:
Saya membaca Alkitab, dan menyimpulkan bahwa tidak ada kontradiksi antara ajaran Yesus dan Muhammad, khususnya dalam ajaran mengenai keesaan Allah. Dalam Yohanes 17:3 Yesus bersabda: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu hendaknya mereka mengetahui bahwa Engkau adalah satu-satunya Allah yang benar, dan Yesus Kristus yang telah Engkau utus”. Jadi bisa dirumuskankan: “Tidak ada ilah selain Allah dan Yesus adalah utusan Allah”, yang paralel dengan ajaran pokok Islam: Lâ Ilaha illa Allah, Muhammad Rasul Allah.Artinya: “Tidak ada ilah selain Allah, Muhammad Utusan Allah”. Lagi, dalam 1 Timotius 2:5 disebutkan: “Karena Allah itu Esa, dan esa pula Pengantara antara Allah dan manusia, yaitu Manusia Kristus Yesus”.
Dalam Markus 12:29 Yesus mengutip Taurat: Dengarlah hai Israel, Allah Tuhan kita, Tuhan itu Esa”. Tetapi antara Islam dan Kristen menjadi berbeda secara funda-mental ketika Kristen mengajarkan Trinitas, termasuk pengakuan bahwa Yesus adalah Anak Allah. Karena itu, Al-Qur’an menegaskan: “Kafirlah orang yang berkata bahwa Allah itu adalah ketiga dari Trinitas, padahal tidak ada ilah kecuali Ilah yang Esa” (Q.s. Al-Maidah/5:73).

JAWABAN:
Dalam bahasa asli, Q.s. Al-Maidah/5:73  berbunyi: Laqad kafar alladzina qaluu Innallaha tsalitsu tsalatsah. “Kafirlah orang yang berkata bahwa Allah itu adalah ketiga dari tiga”. Terjemahan “Allah is one of three in a Trinity” jelas-jelas salah. Tsalitsu tsalatsah, secara harfiah: “ketiga dari yang tiga”. Kata Trinitas berasal dari bahasa Latin: treis = “tiga”, danunitas = “satu”, “ketiga dari yang satu”, bahasa Arabnya: tsalitsu wahidah, dan bukantsalitsu tsalatsah. Selan-jutnya, secara historis ayat tersebut sama sekali tidak cocok bila diterapkan bagi Iman Kristen. Banyak ayat-ayat Qur’an yang mengkritisi Iman Kristen, sebenarnya ditujukan kepada sekte-sekte heretik (sesat) Kris-ten yang berkembang di Mekkah dan sekitarnya pada zaman Muhammad, misalnya: Collyridianisme (atau:Maryamin), Gnostik, Dokotisme, dan sebagainya, dan bukan Iman Kristen resmi yang waktu itu berpusat di Byzantium, Alexandria, Antiokia, Eddesa dan wilayah Turki sekarang.

Iman Kristen sejati tidak pernah mempercayai paham primitip Tsalitsu tsalatsah, sejenis paham Tritheisme yang terdiri Allah, Isa dan Maryam (Q.s. Al-Maidah 116). Karena itu,  dalam 1 Korintus 8:4 Rasul Paulus berkata: Oudeis theos utheros ei me heis. Artinya: “Tidak ada ilah lain kecuali Allah Yang Esa”. Dalam Alkitab bahasa Arab diterjemahkan: Lâ ilaha illa Allah al-Wahid. Jadi, jauh sebelum Islam lahir ungkapan “Tidak ada ilah selain Allah” sudah ada dalam Iman Kristen. Karena itu, kebanyakan umat Islam mengkritik Iman Kristen tetapi sebenarnya mereka tidak memahami apa yang mereka kritik. Salah satu sebabnya, karena menyamaratakan sekte-sekte Kriusten primitip di Mekkah dan sekitarnya, yang pahamnya dikritik keras oleh Al-Qur’an, paham primitip yang sebanrnya juga tidak diimani oleh umat Kristen, baik Katolik, Protestan, apalagi gereja-gereja ortodoks yang jelas-jelas mempunyai akar historis yang “sanad”-nya bisa dibuktikan dari Yesus dan para murid-Nya.

3. Makna Ajaran Ke-Tritunggal-an Allah

PERTANYAAN;
Kalau begitu, bagaimanakah ajaran Trinitas seperti yang diajarkan oleh Alkiatb sendiri? Dan apakah perbedaannya dengan paham “triteisme” yang dikritik oleh Al-Qur’an?

JAWABAN:
Trinitas tidak mengajarkan adanya 3 Tuhan, apa-lagi terdiri Allah, Isa dan Maryam (Q.s. Al Maidah 73, 116). Ajaran Tritunggal ini tidak lahir dari alam politeisme seperti yang dihadapi Islam, sehingga al-Qur’an menegaskan Lam Yalid wa lam yulad. Artinya: “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Kritik Lam yalid wa lam Yulad dalam surah al-Ikhlas itu, konteks semula ditujukan kepada keyakinan Arab pra-Islam yang menganggap al-Lata, al-Uzza dan Manat sebagai Banat Allah (putri-putri Allah). Kristen muncul dari latarbelakang Yahudi yang monoteis, sehingga yang mau dijawab dengan akidah Kristen bukan “keberapaan Allah”, tetapi “kebagaimanaan Allah Yang Esa” (Ibrani: Elohim Ehad, Suryani: Had Alaha, Arab: Allahu Ahad). Tetapi bagaimana dengan Bapa, Putra dan Roh Kudus? Bapa adalah kata kiasan untuk Wujud Allah, Putra adalah Firman-Nya, dan Roh Kudus atau Hayat/Hidup Allah.

Dalam keyakinan Kristen, Firman itu telah turun (nuzul) menjadi manusia, sebanding dengan keyakinan Islam Firman menjadi Alqur’an. Lalu apabila Al-Qur’an itu mempunyai wujud temporal berwujud Kitab berbahasa Arab (kalam Lafdzi), sekaligus kekal yaitu Kalam Nafsi yang tersimpan di Lauh al-Mahfud. Kalam yang Lauh al-Mahfud itu kekal, dan bukan makhluk. Begitu juga keyakinan Kristen, Yesus yang kelihatan, lapar dan haus itu Nabi dan rasul (Ibrani 3:1), bukan Allah dan bukan Tuhan. Karena itu ia berdoa dalam kema-nusiaan-Nya, tetapi sebagai Firman Allah, Ia kekal dan satu dengan Wujud Allah (Yohanes 1:1). Yohanes 17:3 dan 1 Timotius 2:5 jelas-jelas merujuk kepada kemanusiaan Yesus, dan tidak perlu dipertentangkan dengan keilahian Firman Allah: Pada Mulanya adalah Firman dan Firman itu bersama-sama Allah, dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia, dan tanpa DFia tidak ada sesuatu pun yang jadi dari segala yang telah dijadikan” (Yohanes 1:1,3). 

Dalam makna Firman yang kekal itulah, Yesus disebut Putra Allah, bukan menunjuk kemanusiaan-Nya. Allah itu kekal, dan Firman serta Roh-Nya juga sama-sama kekal. Sebab kalau Firman tidak kekal, berarti ada waktu tertentu dimana Allah tidak punya Firman. Itu mustahil bukan? Begitu juga Roh Allah harus kekal bersama Wujud Dzat-Nya, sebab tidak mungkin Allah pernah ada tanpa Roh-Nya (jadi bukan juga Malaikat Jibril seperti disalahpahami beberapa tafsir Qur’an, seperti Jalalain, dan sebagainya). Itulah yang disebut Ajaran Tritunggal, bukan triteisme seperti tuduhan beberapa polemikus Muslim seperti Ahmad Deedat.. Belajarlah dari sumber Kristen langsung, sebelum menulis begitu “percaya diri/PD”. Penguasaan sejarah juga sangat penting, dan harus mengacu dari sumber-sumber primer, bukan dari sumber-sumber sekunder kaum polemikus yang mengutip dari kutipan orang tanpa check and recheck dari sumber aslinya.

4. Menjelaskan Keilahian dan Kemanusiaan Yesus Kristus (The Godhead and The Manhoof of Jesus Christ)

PERTANYAAN:
Itulah keyakinan Kristen tentang “dua tabiat Kristus”, sepenuhnya Ilahi dan sepenuhnya insani. Keyakinan ini sulit dimengerti umat Islam, sebab di satu pihak sebagai Allah Dia Maha Kuasa, tetapi pada saat yang sama Dia menderita, bahkan bisa mati. Kalau lagi menangis dan dicobai, lalu mana yang disebut Allah? Seandainya kita lagi berdoa, dan Dia menjawab begini: “Aku ini lagi bersifat manusia, sama seperti kamu aku sendiri juga berdoa?” Itulah sebabnya bagi umat Islam keyakinan tentang dua tabiat Yesus itu tidak masuk akal.

JAWABAN:
Keyakinan kami tentang kedua tabiat Al-Masih sebanding (tidak persis sama) kalau umat Islam memahami Qur’an sebagai Kalam (Sabda) Allah. Al-Qur’an itu di satu sisi ghayr al-makhluq (tak tercipta) sebagai Kalam Nafsi (Sabda yang kekal), tetapi juga sekaligusmakhluq (tercipta) sebagai kalam lafdzi (Sabda temporal dalam wujud nuzulnya sebagai “kitab berbahasa Arab”). Kalau ada yang bertanya, Allah  mana lagi yang menjawab doa Yesus, kalau Yesus sendiri adalah Allah? Jawabnya: Yang berdoa adalah kemanusiaan Yesus, dan yang menjawab doa adalah Allah yang selalu berdiam bersama Firman-Nya yang kekal (Yoh. 1:1’ 8:42, 58) dan Roh-Nya yang kekal (Yoh. 15:26; 1 Kor. 2:10-11). Allah, Firman-Nya dan Roh-Nya adalah Allah yang Mahaesa. Karena Firman dan Roh-Nya selalu menyatu dengan Wujud Dzat-Nya. Yesus sebagai Manusia, sebanding dengan Qur’an dalam bentuk fisik bahasa Arab. Nah, kalau Firman Allah yang ghayr al-Makhluq(bukan ciptaan)  bisa nuzul  astau turun menjadi kitab, sebuah benda mati, lalu apa mustahilnya menjadi Manusia (lihat. Yohanes 1:14)?

Selanjutnya, kalau umat Islam berkata bahwa Al-Qur’an itu tak tercipta, bukankah kertasnya itu tercipta, huruf Arabnya berkembang (zaman Nabi belum ada harakat). padahal sesuatu yang berkembang itu ciptaan, kira-kira seperti itu. Kalam Allah itu kekal, tetapi toh kertasnya Qur’an sebagai wujud pengejawantahan wahyu juga bisa rusak. Seperti itulah pengibaratan kematian Yesus. Ketika umat Kristiani menyebut Firman itu bersama Allah dan Firman itu Allah (Yohanes 1:1,14), dan sama sekali bukan merujuk kepada  kemanusian Yesus (1 Petrus 3:18).

Mungkin umat Islam mesti memahami sejarah ilmu Kalam mengenai makhluk/tidaknya Qur’an, perdebatan kaum Ash’ariyyah dan kaum Mu’tazilah, yang ternyata ditemukan banyak paralel dengan perkembangan teologi Kristiani. Sifat-sifat Allah yang “La hiya wa laa ghayruha” (tidak sama dengan Dzat-Nya tetapi juga tidak berbeda dengan-Nya). Untuk memehami paralel keyakinan Islam dan Kristen tentang Firman yang kekal sekaligus temporal, kita bisa membaca buku Seyyed Hussein Nassr, ahli ilmu agama-agama dan seorang Muslim, dalam bukunya Ideals and Realities of Islam  (Cairo: American University Press, 2002) sebagai berikut:

One could of course make a comparison between Islam and Christianity by comparing the Prophet to Christ, the Quran to The New Testament, Gabriel to The Holy Ghost, the Arabic language to Aramaic, the language spoken by Christ, etc. In this way the sacred book in one religion would correspond to the religion to the central figure in the other religion and so on. This type of comparison would be of course meaningful and reveal useful knowledge of the structure of the two religions. But in order to understand what the Quran means to Muslims and why the Prophet is believed to be unlettered according to Islamic belief, it is more significant to consider this comparison from another point of view.

The Word of God in Islam is the Quran; in Christianity it is Christ. The vehicle of the Divine Message in Christinaity is the Virgin Mary; in Islam it is the soul of the Prophet. The Prophet must be unlettered for the same reason that the Virgin Mary must be virgin. The human vehicle of the Divine Message must be pure and untainted. The Divine Word can only be written on the pure and “untouched” tablet of human receptivity. If this Word is in the form of flesh the purity is symbolized by the virginity of the mother who gives birth to the word, and if it is in the form of a book this purity is symbolized by the unlettered nature of the person who is chosen to announce this Word among men.

5. Allah itu Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan (Lam Yalid wa Lam Yulad)

PERTANYAAN:
Bagi umat Islam, Allah itu Maha Esa, tidak ada yang setara dengan-Nya, Ia tidak beranak dan tidak diperanakkan (Lam yalid wa lam yulad). Inilah salah satu yang mendasari mengapa umat Islam menolak keyakinan bahwa Yesus adalah Putra Allah. Karena bagi Islam, Allah itu tidak beristri bagaimana mungkin Dia mempunyai anak? Nabi Isa hanya seorang utusan Allah, Ia adalah Nabi seperti nabi-nabi yang lain.

JAWABAN:
Seluruh pendapat di atas di-“amin”-kan oleh Iman Kristen. Memang umat Kristen juga percaya Allah itu Esa, Tidak beranak dan tidak diperanakkan, apalagi kepercayaan primitip bahwa Ia beristri a la keyakinan Jahiliah pra-Islam, yang kemudian direaksi dalil Qur’an: Lam Yalid wa lam Yulad. Tapi perlu anda tahu, setiap agama memiliki “bahasa teologis” yang tak bisa ditafsirkan secara harfiah. Begitulah istilah Putra Allah, sama sekali bukan Allah itu beranak. Coba bandingkan, dalam Qur’an ada istilah “Ibnu Sabil”, maksudnya “musafir agama” (harfiah: “anak jalan”), tentu tak perlu bertanya: Siapa istrinya jalan?  Begitu juga sebutan Allah sebagai Bapa, tidak menunjuk jenis kelamin. Islam juga ber-keyakinan Allah “beyond the gender”, tetapi karena keterbatasan bahasa, toch umat Islam berdoa: “Allahuma anta-ssalam……” Orang awam bisa saja bertanya: “Mengapa bukan “anti ssalamah”?. Jawabnya, karena masyarakat Timur Tengah itu patrilineal.

Dalam Kristen tak ada keyakinan “injil yang turun dari langit”, sebab Firman Allah itu turun sebagai Manusia utama (Isa al-Masih), bukan berupa Kitab Injil. Jadi, tidak fair menilai Kristen dari “frame of reference” Islam, dan sebaliknya. Lagi-lagi, seorang teman Muslim yang tidak mengerti mengejek: Yesus kok sifatnya bisa mancolo Tuhan dan mancolo manusia, merasakan sakit dan menderita. Jawabnya, coba banding-kan dengan Ilmu Kalam mengenai Qur’an sebagai Kalam kekal,  yang kata Al-Ghazali: qa’imun fi Dzatihi(melekat pada Dzat-Nya),  dan “bentuk nuzul” temporalnya sebagai Kitab dalam dimensi ruang dan waktu yang terbatas! (baca: “Qawaidul ‘Aqaid”-nya Imam Al-Gazali). Puncak pergumulan kaum Ash’ariyyah itu sampai pada dalil yang lalu dinisbahkan dengan sabda Nabi Muhammad: Man Qala Innal Qur’an makhluqun fahuwa kafir Artinya: “Barangsiapa yang mengatakan Al-Qur’an itu diciptakan maka ia adalah kafir”.

Umat Islam percaya bahwa Firman Allah itu kekal, tidak bisa rusak, bukan? Tetapi apa ya Allah perlu tegaskan dulu: “Tunggu, yang kekal itu bukan kertasnya lho, bukan huruf dan harakat Arabnya yang berkembang (yang menunjukkan keterciptaan)? Sebab itulah hakikat pewahyuan, bagaimana “Yang Kekal” memasuki dimensi ruang dan waktu untuk menyapa manusia, entah itu diyakini nuzul sebagai “Kitab yang Ilahi” dalam keyakinan Islam, atau “Manusia Sempurna” (Insan al-Kamil)  yaitu Yesus Kristus atau Isa Al-Masih dalam Iman Kristen. Keduanya sama-sama diyakini “ghairul Makhluq” (bukan ciptaan, non factum).

6. Seputar Dosa dan Penebusan Melalui Pengurbanan Kristus

PERTANYAAN:
Apakah ide penebusan dosa sesuai dengan sifat keadilan Allah?  Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Barangsiapa yang berbuat sesuai dengan petunjuk Allah maka ia telah berbuat untuk dirinya sendiiri, dan barangsiapa yang sesat, maka itu tanggungannya sendiri pula. Seseorang tidak berwenang menanggung dosa orang lain, dan Kami tidak akan menyiksa sebelum kami mengutus seorang rasul untuk mengingatkannya” (Q.s. Al-Isra’/17:15).

Prinsip bahwa seseorang akan bertanggungjawab atas perbuatannya sendiri, dan tidak bisa menanggung dosa orang lain juga diakui dalam Alkitab sebagai berikut: “Orang yang berbuat dosa itu, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya, dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebe-narannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya. Tetapi jikalau orang fasik bertobat dari segala dosa yang dilakukannya dan berpegang pada segala ketetapan-Ku serta melakukan keadilan dan kebenaran ia pasti hidup, ia tidak akan mati. Segala durhaka yang dibuatnya tidak akan diingat-ingat lagi terhadap dia, Ia akan hidup karena kebenaran yang dilakukannya” (Yehezkiel 18:20-22).

JAWABAN:
Iman Kristen tidak pernah mengajarkan bahwa anak menanggung dosa orang tuanya. Yang disebut “dosa asal” bukan mewariskan dosa orang tua kepada anak cicu atau keturunannya, melainkan “akibat dosa manusia pertama”. Jadi, bukan dosanya yang diwariskan, tetapi akibat dosa itu yang memang harus ditanggung keturunan Adam. Alkitab berkata: “Upah dosa adalah maut” (Roma 3:  ). Yang disebut “maut” merujuk baik kematian jasmani, maupun kematian rohani yang terpisah dari Allah. Mengenai akibat dosa Adam yang mewariskan kematian kepada semua keturunanya, jelas-jelas diakui oleh Al-Qur’an: Kullu nafsin dzaiqatul maut. Artinya: “Tiap-tiap yang bernafas akan merasakan mati”.

Selain itu, bersamaan dengan penegasan bahwa orang bertanggung jawab atas dirinya sendiri-sendiri, tetapi dalam kitab yang sama juga disebutkan tentang “korban penebus dosa”  (Yeh. 45:17). Dalam bahasa Ibrani “korban penghapus dosa” adalah  HaChatah yang berkaitan dengan dihapuskannya dosa dengan korban pengganti. Konsep “pengganti” ini adalah bahasa Ibrani disebut kippur (Arab: kaffarat). Nah, Allah menciptakan manusia untuk rencana keselamatan, manusia diciptakan sebagai “makhluk yang hidup” (Kej. 2: ), tetapi gara-gara dosa Adam, like or dislike  semua keturunannyatoch menanggung akibatnya. Marilah kita renungkan, apakah justru tidak sesuai dengan prinsip keadilan, apabila kita tidak ikut berdosa ikut terkena akibat dosa Adam dan Hawa, kemudian dengan satu orang pula kini kita dibenarkan, yaitu melalui  Isa al-Masih? Alkitab menyebutkan: “Sebab, jika jika karena pelanggaran satu orang semua orang telah jatuh kepada kuasa maut, jauh lebih besar lagi karunia Allah  dan karunia-Nya, yang dilimpahkan-Nya atas semua orang karena satu orang, yaitu Yesus Kristus” (Roma 5:15).  Jadi, yang diwariskan dari Adam bukan dosa-dosanya, melainkan akibat dosa-dosa itu, yaitu maut. Melalui Kristus, Allah memulihkan manusia yang jatuh dalam kuasa dosa yang tidak bisa dilawannya, dengan kasih karunia dari Allah melalui Isa al-Masih (Yesus Kristus).

7. Menjawab Tuduhan Paulus sebagai Pemalsu Ajaran Yesus Kristus

PERTANYAAN:
Ajaran Paulus tentang keselamatan dalam Yesus bertentangan dengan ajaran Yesus sendiri.  Paulus berkata: “Sebab jika mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan” (Roma 10:9). Ini bertentangan dengan penegasan Yesus sendiri: “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan! Tuhan! Akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir Setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah AKu akan berterus terang kepada mereka, dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyalahlah dari pada-Ku, kami sekalian pembuat kejahatan!”(Matius 7:21-23). Jadi, Yesus menolak orang-orang yang menyeru Dia sebagai Tuhan, melainkan melakukan kehnedak Allah seperti yang Dia lakukan (band. Efesus 5:2 bertentangan dengan Matius 25:31-45).

JAWABAN:
Matius 7:21-22 tidak bertentangan dengan Roma 10:9; Efesus 5:2, Ibrani 9:26. Yesus juga tidak menolak orang yang menyeru-Nya dengan Tuhan, seperti disebut dalam Yohanes 13:13.  “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”. Sementara yang ditekankan Matius 7:21-22 adalah perilaku munafik, memangil-menggil Yesus Tuhan tetapi tidak melakukan kehendak Allah. Jadi, beriman hanya dengan mulut. Matius 7:21-22 tidak bisa disimpulkan bahwa Yesus akan mengusir orang yang menuhankan diri-Nya. Dalam bahasa Aramaik, bahasa asli yang digunakan Yesus, ayat di atas berbunyi: La hwa kol de amar li: Mari, Mari, ‘al le malkuta de syamayya ella man de ‘avad tsivyah de Avi de basymayya. Artinya: “Not everyone who says to me: Lord, Lord, will enter the Kindom of heaven, but  he who does the will of my Father is in heaven”.

Pertama, dalam bahasa-bahasa semitis yang dipakai di Timur Tengah (Ibrani, Aram dan Arab), ayat ini memakai bentuk “negasi dan konfirmasi”. Patut dicatat, bahwa dalam bahasa Aramaik “Lâ” adalah negasi (artinya “Tidaklah”), yang menyatakan bahwa prinsip beriman itu kepada Yesus itu tidak hanya sebatas ucapan lisan: Mari, Mari (My Lord, my Lord), tetapi disusul dengan sebuah konfirmasi:  “ella” (melainkan), yang selan-jutnya menekankan bahwa melaksanakan iman itu dengan perbuatan, yaitu “melakukan Kehendak Bapa-Ku yang di surga”. Jadi, jangan memotong ayat ini dari konteks keseluruhan, karena hanya orang yang kurang cerdas yang memahami kandungan teks itu yang secara serampangan dengan tafsiran seperti itu.

Dalam bahasa Arab kita bisa membandingkan dengan bentuk harfu an-nafi wa al-isbat, yang juga memakai kata “La” (Tidak) dan “illa” (kecuali). Misalnya, ungkapan Lâ ilaha illallah (Tidak ada Ilah kecuali Allah), yang terdapat baik dalam al-Qur’an maupun dalam Alkitab bahasa Arab (1 Korintus 8:4, “…wa ‘an Lâ ilaha illa llahu al-Ahad”).  Kita tidak bisa memotong kalimat ini, “Tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah), dan menghilangkan perkecualiannya: “selain Allah”. Gaya bahasa seperti ini juga banyak dijumpai juga dalam bahasa Arab Al-Qur’an. “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, kecuali agar beribadah kepada-Ku”. Apa lantas bisa kita simpulkan, bahwa Allah tidak menciptakan manusia dan jin? Tentu saja tidak! Begitu juga, konteks keseluruhan dari ayat di atas adalah agar supaya murid-murid Yesus tidak hanya beriman secara lisan,  tanpa melaksanakannya dalam perbuatan yang nyata (cf. Matius 25:31-46). 

Dalam kita beriman kepada Tuhan, tidak cukup hanya ortodoksi (keyakinan akan kebenaran ajaran), tanpa ortopraksi (melaksanakan iman dengan perbuatan yang benar). Dalam ayat-ayat selanjutnya, Yesus tidak me-nolak ketika murid menyebut-Nya:  “Mar”, “Marya” (Aram), “Adonay” (Ibrani)  yang maknanya “Lord” (Matius 8:21). Ungkapan Aramaik “Mar”, “Marya” (Lord) ini ditemukan dalam lapisan Kekristenan yang tertua, terbukti dari seruan dalam ibadah gereja kuno:  Maranatha!. Artinya: “Datanglah segera, Ya Tuhan!”. Sekali lagi, Yesus sendiri membenarkan sapaan Tuhan yang diterapkan orang kepada-Nya: “Dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan” (Yohanes 13:13).

8. Apakah Ajaran Penebusan Doa berasal dari Konsep Kafir pra-Kristen?

PERTANYAAN:
Konsep tentang penebusan dosa berasal dari agama-agama pagan, yaitu ritus tumbal berdarah. Alkitab sendiri menekankan konsep “pertobatan” lalu pemberian pengampunan langsung, tanpa melalui korban berdarah. Hal ini tampak dari doa Raja Daud dalam Mazmur. “Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku” (Mazmur 51:4). “Bersihkanlah aku dari dosaku dengan hyssop, maka aku menjadi tahir. Basuhlah aku, maka akan menjadi lebih putih daripada salju” (Mazmur 51:9). Karena itu, penegasan ini jelas berbeda dengan ajaran Kristen/Katolik, bahwa kita diampuni dosa-dosa kita dengan ritual “memakan daging Yesus dan meminum darah-Nya”. Karena itu, ajaran seperti ini  jelas-jelas  asal-usulnya dari ritus pagan.

JAWABAN:
Permohonan Daud agar dilepaskan dari dosa-dosa dan memohon pe-ngampunan, tidak bisa dipertentangkan dengan penebusan melalui Kristus. Ada beberapa bukti dalam teks ayat itu sendiri yang dengan jelas menolak ke-simpulan dangkal seperti itu. Pertama, Daud sendiri mengakui: “Sesungguhnya dalam kesalahan aku diperanakkan, dalam dosa aku dikandung ibuku” (Mazmur 51:7). Kedua, Raja Daud dalam bagian yang sama berdoa: “Lepaskanlah aku dari hutang darah, Ya Allah, Allah keselamatanku” (Mazmur 51:16). Ungkapan “dalam kesalahan aku dikandung” sekali lagi bukan berarti dosa-dosa nenek moyang harus kita warisi, melainkan akibat dosa manusia pertama ini telah membuat kita sejak lahir beada dalam kondisi yang merangsang orang untuk berbuat dosa. Itulah “hutang darah” yang dimaksud dalam doa Daud.

Bahwa manusia dilahirkan sebagai makhluk yang lemah, diakui sendiri oleh Al-Qur’an:Wa khuliqa al-Insanu dhaifân. Artinya : “Diciptakanlah Manusia sebagai makhluk yang lemah“ (Qs. an-Nisa’/4:28). Dan seperti diakui oleh Rasul Paulus bahwa ada suatu rangsangan dalam jiwa manusia yang cenderung berbuat kejahatan (Roma 7:21), Al-Qur’an sxendiri menyaksikan: Inna an-Nafsa la-ammâratu bissu’i. Artinya: “Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”( Q.s. Yusuf/12:53). Karena itu, menurut Nurcholish Madjid, Islam juga mengakui adanya kejatuhan (Arab: hubuth) Adam dari surga, namun tidak menjadikan pangkal pokok dalam sistem teologinya. Jadi, ide penebusan tidak berasal dari ritus pagan, melainkan berasal dari ritus-ritus yang jelas-jelas tercantum dalam Taurat, Mazmur (Zabur) dan Kitab Nabi-nabi sebelum zaman Yesus.

Dalam Perjanjian Lama dikenal ritus Yom Kippur (Hari penebusan Dosa). Nah, dari  latar belakang yang sama, khususnya dari upacara Yom Kippur, kita dapat mengerti alam pikiran yang melatarbelakangi ide “penebusan dosa” (kaffarat) dalam Perjanjian Baru.Memang latar belakang lain, soal “denda tebusan” atau dalam bahasa Yunani: lutron,juga berperan,tetapi sebatas pada formulasi, bukan pad aide dasarnya. Ide dasarnya jelas-jelas berasal dari Kitab Taurat dan kitab nabi-nabi dalam Perjanjian Lama. Misalnya, apabila seekor lembu menanduk orang sampai mati, lembu itu harus dirajam sampai mati dan pemiliknya bebas. Tetapi apabila pemiliknya sudah sering diperingatkan tentang bahayanya lembu itu tetapi tidak menjaganya, apabila lembu itu menanduk orang sampai mati lagi, maka bukan hanya lembunya, melainkan pemiliknya juga harus dihukum mati. Ia bisa dibebaskan dengan cara membayar uang tebusan (koper) sebagai ganti atau tebusan nyawanya (Keluaran 21:28-30).

Inti dari ketentuan ini adalah “hukum balasan setimpal yang adil”, tapi lebih dari itu adalah ditekankan pengampunan (Keluaran 21:23-27; Immamat 19:17-18). Asas pembalasan setimpal itu (Arab: Qishash) disebutkan Taurat, dalam teks bahasa aslinya:We natattah nefes tahat nefes, ‘ayin tahat’ ayin syen tahat shen. Artinya: “Dan engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi” (Keluaran 21:23-24). Tetapi pada saat yang sama ditekankan supaya berdasarkan kasih, setiap orang tidak menuntut balas (Imamat 19:17-18). Asas tersebut hampir secara harfiah diterima dalam sistem hukum Islam, seperti disebut dalam Al-Qur’an: Wa katabnâ ‘alaihim fîha annan nafsa bi an-nafsi, wa  al-‘aina bi al-‘aini, wa al-anfa bi al-anfi,  wa al-udzuna bi al-udzuni, wassina bi ssini, wa al-jurûha qishâsh faman tashsddaqa bihi fahuwa kaffâratulahu. Artinya: “Dan telah Kami tetapkan kepada mereka dalam Taurat bahwa nyawa dibalas nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka pun dibalas dengan setimpal. Namun barang siapa rela melepaskan hak balasnya, maka perbuatan itu menjadi  kaffarat (penebus dosa) dosa baginya” (Qs. al-Maidah/5: 45).

Mengenai perbuatan tidak sengaja yang menyebabkan kematian, seperti tampak pada kasus lembu yang menanduk mati tersebut, pada pokoknya ada kewajiban memberikan tebusan (Ibrani: kofer, Arab: kaffarat). Sistem kaffarat ini sangat lazim juga dikenal bahkan cukup berkembang dalam fiqh Islam. Misalnya, mengenai kaffarat membunuh secara tidak sengaja orang Islam ialah memer-dekakan hamba mukmin, atau berpuasa dua bulan berturut-turut sebagai tanda pertobatan kepada Allah (Q.s. an-Nisa’ 4:92).  Dalam bidang ibadah, orang yang melanggar larangan ber-jima’ (bersetubuh) suami isteri di bulan suci Ramadhan, kaffarat-nya ialah puasa dua bulan berturut-turut atau memberi makan 60 orang miskin. Dalam Yudaisme zaman Alkitab, selain dikenal ide penebusan dalam sistem hukum mereka, secara khusus cukup berkembang pula dalam pandangan teologisnya. Perkembangan Yudaisme belakangan, khususnya setelah kehancuran Bait Allah tahun 70 Masehi mulai menghilangkan kurban sembelihan, mengakibatkan teolog-teolog Yahudi kini mengecilkan arti dosa. Memang benar manusia dilahirkan dalam “kondisi yang dirangsang dosa” (yetser ha Ra’), tetapi hal itu diimbangi oleh “keinsafan batin yang baik”(yetser ha Tov) sama bobotnya, yang apabila ditopang dengan pembacaan Taurat akan lebih unggul. Tekanan pada Hukum Taurat makin berlebih-lebihan sebagai reaksi dari semakin pesatnya perkembangan kekristenan waktu itu.

Karena itu dikenal perayaan khusus untuk penebusan, Yom Kippur (hari penebusan dosa) yang terkait dengan adanya kurban darah. Alasannya, karena nyawa makhluk ada dalam darahnya, karena itu darah mengadakan penebusan dengan perantaraan makhluk hidup (Imamat 17:11). Bahkan, Tuhan (YAHWEH) sendiri disebut “Sang Penebus” (Ibrani:go’el) dalam Kitab Taurat, Mazmur (Zabur) dan Nabi-nabi (Ulangan 7:8; 24:18; Mazmur 107: 2; Yesaya 48:20). Jadi, Islam juga mengenal sistem penebusan dalam hukumnya, tetapi tidak mengembangkannya dalam teologinya. Jadi, ide kaffarat dalam hukum Islam ini, mes-tinya dapat menjembatani doktrin Kristen tentang penebusan. Dalam hukum Yahudi maupun Islam tersebut, pembayaran suatu harga untuk pembebasan adalah hak asasi yang didasarkan atas prinsip keadilan. Karena itu, berangkat dari segi antropologis bahwa kealpaan, kelalaian dan kesalahan itu bukan sekedar bersifat kasuistik melainkan berakar dari sifat kodrati manusia, maka logis dan rasional apabila ide kaffarat bukan hanya diterapkan di dalam bidang hukum, tetapi juga menjadi tema sentral dalam teologi Kristen.

Berangkat dari kenyataan bahwa kelemahan itu inherent selalu melekat pada kodrat manusia, konsep penebusan ini begitu bermanfaat, bahkan menjadi satu-satunya jalan keluar yang paling logis. Dalam gereja mula-mula, tentu saja perumusannya antara lain tidak lepas dari metafor-metafor yuridis tersebut. Orang berdosa adalah budak dari dosa (Yohanes 8:34), secara kodrati manusia “bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa” (Roma 7:14). Dari sudut pandang yuridis, Hukum Taurat menentukan bahwa orang-orang berdosa harus mati. Untuk itu harus ada ”tebusan” (Ibrani : kopper, Arab : kaffarat) sebagai harga yang harus dibayar untuk hak hidup yang sebenarnya sudah tidak ada, yang bagi iman Kristen seluruhnya telah menjadi final sudah kurban agung Kristus, sekali untuk selama-lamanya (Ibrani 10: 12). Jadi, Islam mengenal konsep penebusan dalam sistem hukumnya, tetapi menolak ide tersebut diterapkan dalam pandangan teologisnya.  Semoga penjelasan ini bisa membantu.

Silahkan berkomentar yang sopan atau langsung akan dihapus, terimakasih...